Kamis, 04 September 2014

Hubungan Antar Manusia

Tidak ada manusia yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Masing-masing membutuhkan hal-hal yang ditawarkan orang lain, begitu juga anda memiliki hal-hal yang dibutuhkan orang lain.
Baik disadari maupun tidak, sebenarnya setiap dari kita mempunyai kebutuhan untuk membantu orang lain. Kebutuhan ini jika dipenuhi ada kedamaian, kelegaan, perasaan yang sulit untuk dilukiskan, namun nyata yang tidak dapat dibeli dengan uang seberapa pun.
Namun seringnya yang kita temui di dalam kehidupan kita, dalam membantu orang lain ternyata tidaklah semudah yang diniatkan. Jika caranya salah yang terjadi bukannya memecahkan masalah malahan menjadi bumerang yang menghantam balik kita sendiri. Hal ini dapat dilukiskan dengan cerita yang pernah saya baca dimilis-milis motivasi, kisahnya kira-kira seperti ini:

Ada seorang pertapa muda sedang meditasi ditepi sungai. Tidak lama setelah memejamkan mata, pertapa muda ini mendengar gerakan suara air yang tidak wajar dekat tempat dia bermeditasi. Setelah diperiksa arah bunyi itu ternyata didapatinya seekor kepiting sedang berusaha keras untuk naik ketepi sungai agar tidak terhayut oleh arus sungai yang saat itu sedang deras.

Melihat hal itu terbitlah rasa kasian dan segera mengulurkan tangannya kearah kepiting untuk membantunya naik ketepi. Sang kepiting mengulurkan capitnya dan segera mencapit jari tangan sang pertapa muda sehingga walaupun pertapa itu berhasil menolong kepiting tapi jari tangannya terluka oleh capitannya. Namun hati sang pertapa muda merasa puas karena telah membantu menyelamatkan sang kepiting.

Kemudian sang pertapa melanjutkan meditasinya. Belum lama waktu berselang, terdengar lagi suara percik air yang janggal lagi dan dilihatnyalah seekor kepiting entah kepiting yang sama atau kepiting yang berbeda, yang jelas dilihatnya seekor kepiting kesulitan berjuang melawan arus dan sedang berusaha ketepi sungai dengan susah payah. Segera pertapa tadi mengulurkan tangannya dan membantu lagi, sehingga kali ini tangannya yang sudah terluka semakin bengkak karena capitan kepiting di jarinya.

Seorang tua yang kebetulan berada disekitar dan melihat kejadian itu menghampiri pertapa muda itu dan bertanya dan menegur pertapa muda itu, “Anak muda, perbuatanmu menolong kepiting itu merupakan cerminan hatimu yang baik. Tetapi mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting itu melukai jari tanganmu, hingga bengkak dan robek begitu?”

“Paman memang seekor kepiting menggunakan capitnya untuk berpegangan. Saya sedang melatih dan mengembangkan rasa belas kasih, maka saya tidak mempermasalahkan jari tangan terluka asalkan menolong makhluk lain walaupun itu hanya seekor kepiting”, jawab pertapa muda itu dengan hati yang tentram karena telah melatih belas kasih yang baik.

Mendengar jawab sang pemuda, orang tua itu kemudian memunggut sebatang ranting, dan mengulurkannya kepada kepiting yang juga kebetulan sedang terseret arus. Segera kepiting itu menangkap ranting tersebut dengan capitnya. “Lihatlah anak muda. Melatih sifat belas kasih itu baik, tetapi harus disertai dengan cara yang bijaksana. Menolong makhluk lain itu baik tetapi bukan berarti dengan cara mengorbankan diri. Rantingpun bisa kita manfaatkan, malah dengan cara ini kamu dapat menolong kepiting jauh lebih banyak dari pada yang dapat kamu lakukan dengan cara kamu tadi.”

Terbukalah mata sang pertapa muda, dan berkata, “Terima kasih paman, hari ini saya dapat pemahaman yang sangat berguna, bahwa kita mengembangkan rasa belas kasih dengan bijaksana.

Berbuat baik dengan cara yang bijaksana, bukan saja memberikan dampak positif kepada yang dibantu, namun juga sekaligus membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi yang membantu.

Dalam buku “How to Have Confidence and Power in Dealing with People” karangan Les Giblin menuliskan bahwa pada dasar semua manusia saling membutuhkan untuk saling mengisi. Hanya ada tiga metode dasar tentang berhubungan dengan orang lain, yaitu:
  1. Anda bisa mengambil apa yang anda perlukan dari orang lain dengan paksaan, ancaman, intimidasi atau dengan mengalahkan kecerdikannya. Walaupun para penjahat tentu saja termasuk dalam kategori ini, banyak orang terhormat yang menggunakan metode ini dengan cara yang lebih halus.
  2. Anda bisa menjadi pengemis dalam berhubungan antar-manusia dan mengemis kepada orang lain supaya memberikan apa yang anda inginkan. Jenis kepribadian yang tunduk kepada orang lain ini menangani urusan dengan orang lain, “Saya tidak akan memaksa dengan cara apapun atau menyulitkan anda, dan sebagai timbal baliknya anda bersikap baik kepada saya.”
  3. Anda bisa menyelesaikan urusan atas landasan pertukaran yang adil, atau memberi dan menerima. Anda menetapkan sebagai urusan anda untuk memberikan kepada orang lain apa yang mereka butuhkan dan mereka inginkan, dan biasanya sebagai timbal baliknya mereka memberikan kepada anda hal-hal yang anda perlukan.

Dari ketiga cara berhubungan dengan manusia diatas, cara yang akan bertahan terus dalam jangka panjang adalah cara yang ketiga, yaitu yang dikenal dengan istilah, ‘give and take’ Bahkan hubungan antara ayah dan anakpun sebenarnya menganut cara ini juga.

Kita beruntung melalui bisnis ini, kita dapat membantu orang lain dengan penuh kebijaksanaan dari sistem bisnis ini. Karena di bisnis ini kita membantu orang lain berhasil kita juga berhasil. Dan kebutuhan akan membantu orang lain tersalurkan dengan baik, memberikan kita rasa kedamaian yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Mari kita bantu lebih banyak orang lain melalui bisnis ini, apa lagi dalam kondisi ekonomi resesi global, yang sebagai dampaknya PHK semakin marak. Percayalah banyak orang diluar sana yang sebenarnya memerlukan bisnis ini untuk menyelesaikan problem-problem mereka.



Penulis
Ir. Djoko H. Komara
General Manager K-Link Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar