Kamis, 04 September 2014

Belajar dari orang SUKSES

Kehidupan ini terus berjalan dinamis, jika kita mempelajari sejarah, kehidupan itu terus bergerak, maka seperti orang bijak berkata bahwa, ”Di dunia ini tidak ada yang abadi kecuali perubahan”. Dalam menghadapi perubahan inilah, kita selalu dituntut untuk dan memperbarui diri. Pembaruan kompetensi saja tidak cukup. Lebih dari itu diperlukan recode, yaitu mengubah pola pikir. Seperti kata Albert Einstein, ”Kita tidak bisa memecahkan masalah-masalah baru dengan cara-cara lama.”

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah cerita kisah nyata tentang Burung Pelikan di Amerika, yang kisahnya menjadikan inspirasi dan sering diceritakan di buku-buku dan seminar-seminar motivasi.

Kota Monterey, California selama bertahun-tahun merupakan surga bagi burung-burung pelikan.  Karena di kota ini terdapat banyak pabrik pengalengan ikan. Burung-burung pelikan sangat menyukai kota ini karena saat para nelayan membersihkan hasil tangkapan mereka & membuang ikan tangkapan yang kurang bagus maka burung-burung pelikan segera berdatangan berebut ikan tersebut yang merupakan makanan mereka.

Burung-burung pelikan hidup enak tanpa harus bekerja keras untuk mendapatkan makanannya di kota Monterey. Namun dengan berjalannya waktu, ikan-ikan di pantai California mulai berkurang dan satu demi satu pabrik pengalengan ikanpun ditutup.  Perubahan inilah yang membuat burung-burung pelikan mendapatkan masalah.

Sebenarnya burung-burung pelikan adalah pemancing alami yang hebat, mereka terbang berkelompok diatas gelombang laut, dan ketika mereka melihat ikan, mereka menyelam ke dalam air dan menangkap ikan dengan paruhnya yang lebar seperti sekop. Burung-burung pelikan yang ada di Monterey tidak pernah berburu selama bertahun-tahun, mereka telah menjadi gemuk dan malas.  Kini tidak ada lagi nelayan yang berlayar sehingga mereka menderita kelaparan.

Para ahli lingkungan hidup berpikir keras untuk menemukan cara menolong burung-burung pelikan itu, setelah melalui diskusi panjang akhirnya mereka sepakat dengan satu solusi. Mereka mendatangkan burung-burung pelikan dari wilayah lainnya yang makan dengan cara berburu, yang telah mereka teliti setiap hari, dan mereka mencampurnya dengan burung-burung pelikan lokal.

Pelikan-pelikan baru segera mulai memancing makanan mereka sendiri, dan tak lama kemudian burung-burung lokal yang kelaparan bergabung dengan mereka dan mulai memancing makanan mereka sendiri lagi.

Kalau burung pelikan saja mampu belajar dari pelikan yang sukses, maka jika anda merasa diri anda lapar akan kesuksesan, belajarlah dari orang-orang yang sukses dengan menempatkan diri anda bersama dengan mereka, perhatikan bagaimana mereka berpikir, membuat rencana dan bertindak untuk mencapainya. Bagaimana mereka menterjemahan kejadian-kejadian yang menurut anda adalah sesuatu kegagalan atau hambatan, dan bagaimana mereka mengatasinya. Seperti pepatah mengatakan, ”Jika murid siap maka gurupun akan datang”



Penulis
Ir. Djoko H. Komara
General Manager K-Link Indonesia

KONSEP DIRI

Sering kita melihat banyak orang sebenarnya diberikan kesempatan yang sama, namun hasilnya berbeda, bahkan terjadi juga pada saudara kembar, yang jelas di didik pada lingkungan, budaya, dukungan dan faktor-faktor luar lainnya yang hampir sama. Ada yang berhasil, ada juga yang tidak berhasil. Kenapa hasilnya berbeda-beda, mulailah kita mencari-cari jawabannya, namun seringnya orang lebih melihatnya karena faktor-faktor diluar dirinya. Kalau anda sudah membaca artikel saya yang berjudul Prinsip 90:10, yang secara singkat menjelaskan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh 10% faktor-faktor di luar dirinya dan 90% ditentukan dari cara seseorang bereaksi/faktor-faktor di dalam dirinya. Faktor penentu terbesar adalah tergantung dari ’believe system’ (nilai-nilai yang dipercayainya benar) yang akan membentuk konsep dirinya.

Konsep Diri inilah yang membuat perbedaan yang jauh. Saya ingat sepenggal cerita yang sering dibawakan dalam cerita-cerita motivasi, sbb:
Alkisah tentang dua kakak beradik yang sama-sama mengelola toko kelontong miliknya masing-masing. Ayahnya memberikan modal yang sama besarnya kepada kakak-beradik ini untuk menjalankan usaha toko kelontong yang lokasinya tidak terlalu jauh berbeda. Sebelum Sang ayah meninggal dunia berpesan tentang dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu, "Pertama; Jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu dan kedua; Setiap pergi dari rumah ke toko atau sebaliknya jangan sampai terkena sinar matahari."

Masing-masing berusaha mengelola tokonya dengan menjalankan pesan ayahnya. Setelah beberapa tahun waktu berjalan, anak yang lebih tua tokonya berkembang semakin besar, barang-barangnya semakin banyak dan menjadi semakin bertambah kaya. Sebaliknya, usaha adiknya semakin menurun, barang-barangnya semakin menyusut dan menjadi semakin miskin.

Ibunya melihat hal itu merasa heran dan menanyakan kepada masing-masing anaknya. Ketika ditanyakan kepada anak yang lebih kecil jawabnya, "Semua ini karena saya mengikuti pesan ayah. Pesan pertama, saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Ayah juga berpesan agar setiap pergi dan pulang dari rumah ke toko saya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya selalu membawa mobil atau naik taksi menuju toko atau pulang kerumah. Padahal, kalau mau dengan berjalan kaki saja sampai, tetapi karena pesan ayah demikian maka pengeluaranku menjadi bertambah banyak."
Sedangkan ketika Ibunya bertanya kepada anak yang lebih tua jawabnya, "Semua ini berkat dua pesan ayah tersebut. Pertama ayah berpesan supaya saya tidak menagih hutang kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan kepada orang lain sehingga modal saya tidak susut. Kalau ada orang yang ingin berhutang, saya lebih senang memberikan bantuan uang sesuai kemampuan saya saja, sehingga saya tidak perlu menagih hutang. Ayah juga berpesan agar setiap berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya selalu berangkat ke toko dengan berjalan kaki lebih awal sebelum matahari terbit dan pulang  ke rumah lebih lambat sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Kebiasaan itu menjadikan banyak orang tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih panjang."

Kemampuan seseorang menangkap pesan, pelajaran, strategi, dsb, tergantung kepada konsep dirinya. Jika konsep dirinya adalah "positive attitude" maka ia akan berhasil menangkapnya menjadi positif, pikirannya positif, tindakannya positif dan hasilnya pun positif. Sebaliknya kalau pesan itu ditangkap dengan persepsi yang berbeda, maka pesan itu dianggap sebagai sebuah kesulitan bukan sebuah tantangan, hal ini akan mempengaruhi pikiran dan tindakannya, dan hasilnya adalah sesuatu yang negatif.

Konsep diri seperti sebuah sistem operasi yang mempengaruhi mental dan kemampuan berpikir seseorang. Hal ini dapat masuk kedalam pikiran seseorang dan mempunyai bobot pengaruh yang besar terhadap kemampuan menerima dan mempersepsikan setiap pesan yang datang. Semakin positif konsep diri seseorang maka akan semakin mudah menangkap dan mempersepsikan setiap pesan yang datang menjadi sebuah pesan yang positif. Demikian juga sebaliknya.

Konsep Diri terbentuk dari apa yang anda alami, baca, dengar dan hal-hal lain yang masuk kedalam otak anda sehari-hari dalam waktu yang panjang (minimal 90 hari) yang akan mempengaruhi nilai-nilai yang anda percayai. Kalau anda menjalankan secara rutin (sehari-hari) sistem K-System, khususnya mendengarkan kaset-kaset, membaca buku-buku yang dianjurkan dan datang ke setiap pertemuan. Dengan sengaja mengontrol apa yang masuk kedalam pikiran anda. Lebih banyak mengijinkan arus masuk positif dan memblok hal-hal negatif dalam otak anda, maka tanpa anda sadari dengan berjalannya waktu Konsep Diri anda berubah menjadi Positif.

Sebenarnya waktu yang diperlukan untuk sukses di bisnis ini sangatlah singkat dibandingkan bisnis lain. Kenapa banyak yang lama suksesnya, memang 10% karena faktor luar, namun 90% lebih banyak waktu dihabiskan untuk men-set up Konsep Dirinya untuk menjadi konsep diri yang benar sesuai dengan konsep diri orang-orang yang sukses. Semakin orang menutup diri (kebanyakan karena tertutup oleh ’lemak egonya’ yang tebal), untuk tidak merubah konsep dirinya semakin lama juga suksesnya, karena konsep diri ini adalah kunci utamanya. Saya tidak menutup kenyataan bahwa didalam bisnis ini ada orang-orang yang ’menang lotre’ (walaupun dari 1000 orang cuma 1, kalau dibisnis lain dapat warisan) bisa mencapai peringkat tinggi karena dua legnya aktif dengan sendirinya. Namun dengan berjalannya waktu orang-orang ini jika Konsep Dirinya salah dan tidak segera mau berubah, maka merekapun akan tersandung sendiri oleh konsep dirinya untuk kembali kebawah.


Seperti yang di dengung-dengungkan oleh presiden terpilih Amerika Serikat Barack Hussein Obama. Change! Berubah adalah kuncinya. Berubahlah ke Konsep Diri Positif yang akan menentukan nasib anda dan keluarga anda.


Penulis
Ir. Djoko H. Komara
General Manager K-Link Indonesia

Potensi Diri

Banyak orang tidak tahu akan potensi dirinya, sehingga mereka melewati puluhan tahun hidupnya dengan sia-sia. Selalu penyesalan datang terlambat.

Saya teringat sepotong cerita yang inspiratif tentang, Anak Rajawali.
Di sebuah desa di daerah pegunungan, tinggal keluarga yang bermata pencaharian beternak ayam dan pertanian. Suatu saat anak lelaki dari keluarga tersebut membawa pulang sebutir telur rajawali yang didapatnya saat berburu dipuncak gunung. Telur rajawali tersebut diletakkan diantara telur-telur ayam yang sedang dierami oleh induk ayam dalam peternakannya. Setelah telur-telur itu menetas, maka sang anak rajawali hidup serta bergaul dengan anak-anak ayam yang lain dan tanpa mengetahui jati dirinya, sehingga tingkah lakunyapun mirip dengan anak-anak ayam yang lain.

Suatu saat seekor keledai milik keluarga itu, mengangkat kepalanya dan melihat burung rajawali terbang di langit, lalu ia menoleh pada anak rajawali di sampingnya dan berkata: "Engkau dan burung rajawali diatas itu sama-sama memiliki sepasang sayap, mengapa brurung itu dapat  terbang, tetapi engkau hanya dapat mencari makan di darat ?"
Mendengar hal itu, anak rajawali bertanya dengan sangat terkejut "Apa? Saya juga memiliki sepasang sayap yang sama dengan sayap rajawali itu?"
"Benarkah?" tanya anak rajawali sambil melihat kedua sayapnya. "Astaga! Ini Sayapku? Selama ini kukira mantel yang diwariskan ibuku!”

Setiap orang sejak lahir memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk menuju sukses. Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin dalam dunia ini, sehingga Tuhan melengkapi kemampuan manusia dengan kemampuan yang luar biasa. Namun banyak orang yang tidak menyadari kemampuan dalam dirinya, bahkan lupa akan kemampuan yang ada namun belum keluar tersebut yang kita kenal sebagai potensi diri.

Pemikiran-pemikiran pesimis terus disalurkan kepada otak kita, melalui berita-berita, sinetron, ulasan-ulasan di koran, radio, majalah dan televisi. Juga melalui percakapan dan pergaulan sehari-hari. Tanpa sadar banyak orang terprogram menjadi pesimis yang memenjarakan potensi dirinya dan akhirnya membawanya menjadi seorang pecundang.

Bangkitlah dan sadari kemampuan yang luar biasa dalam diri anda. Dalam perjalanan hidup, kadang Tuhan mengijinkan kita untuk mengalami lika-liku dan masa yang tidak menyenangkan, untuk kita belajar dan menjadi lebih baik lagi. Ingatlah selalu, "Anda boleh saja bersedih dalam proses mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan, tetapi jangan sekalipun meragukan kemampuan yang ada dalam diri anda."


Penulis
Ir. Djoko H. Komara
General Manager K-Link Indonesia

Kesombongan

Sungguh ini adalah artikel yang paling berat yang harus saya tulis, karena saya masih perlu belajar banyak tentang hal ini, dan tahapan saya sekarang tentang hal ini masih dirasa jauh dari nilai yang cukup. Setelah saya mencoba untuk menghindarinya berkali-kali, kali ini saya didesak kuat oleh hati nurani saya untuk menuliskannya dalam artikel kali ini, karena saat sekarang adalah saat yang tepat dimana ditengah kebesaran K-Link cobaan untuk menjadi sombong terasa kuat sekali. Harapan saya artikel ini menjadi ‘guiding angel’ buat saya dan juga bisa bermanfaat bagi yang lain.

Kesombongan adalah suatu cobaan yang menghinggapi kita semua, dan kita sendiri tidak merasanya disaat kita dihinggapi oleh penyakit sombong ini, bahkan semakin tinggi tingkat kesombongannya semakin sulit kita deteksi. Kesombongan bermanifestasi dalam segala lini kehidupan. Sombong akan materi; sombong akan kekayaan ini adalah godaan yang paling sulit dilawan dan ini tahap awal kesombongan. Sombong akan kemiskinan, orang yang miskin dan malas untuk berjuang masuk kedalam kategori ini, mereka menggunakan kemiskinannya untuk meminta-minta dan orang-orang yang tidak mau membantu sesuai dengan harapan mereka dicap sombong. Sombong akan umur, sombong karena masih muda sehingga orang tergoda untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya membuang-buang waktu dan negatif. Sombong karena sudah tua, orang tergoda untuk dihormati secara berlebihan, sehingga tidak mau belajar lagi. Sombong akan kesehatannya, membuat orang tidak menjaga kesehatannya. Sombong akan kecantikan, kecerdasan, jabatan, peringkat, kekuasaan, bahkan sombong akan aliman dan merasa sangat rohaniah membuat orang merasa paling benar dan paling suci.

Kesombongan berakar dari ego yang berlebihan. Pada tingkatan normal ego bermanifestasi dalam bentuk harga diri (Self-Esteem) dan kepercayaan diri (Sef-Confidence). Dua faktor ego ini sangat penting dalam perjuangan dalam hidup untuk menuju sukses. Saat berubah menjadi kebanggaan (Pride), hal ini masih positif hanya saja perlu di cermati bahwa tingkatan ini sudah dekat dengan berubahan berikutnya yaitu ke arah sombong. Batas antara bangga dan sombong sangat tipis dan kita sendiri tidak merasakannya saat batas tersebut telah tersebrangi.

Kesadaran sejatilah merupakan kutub yang bersebrangan dengan kutub ego dalam diri kita semua. Perjalanan hidup sering menggiring kita menuju kutub ego. Ego menjebak kita untuk masuk kedalam dualisme sifat ketamakan (Ekstrem Suka) dan Kebencian (Ekstrem tidak suka).
Kalau kita terjebak dalam lingkaran ego ini, kita tidak akan bahagia walaupun sebenarnya pencapaian kita telah tinggi sekalipun.
Banyak kisah-kisah pilu berkaitan dengan korban-korban kesombongan, seperti:
Titanic, kapal terbesar di era awal abad ke 20. mampu mengangkut 3000 penumpang dari Inggris ke Amerika Serikat. Memiliki teknologi tercanggih saat itu. Sebuah contoh kesombongan manusia lewat perkataan pemiliknya, "Jangankan tujuh samudera, bahkan Tuhan pun tidak akan mampu menenggelamkan kapal ini!" Maka di sebuah malam yang dingin, dan ironisnya di pelayaran perdananya, kapal ini menabrak sebuah gunung Es. Kapal besar ini pun tenggelam membawa ribuan penumpangnya, beserta kesombongan yang dibawanya..
Ketika petinju Muhammad Ali sedang berada di puncak ketenarannya, ia berpergian dengan naik sebuah pesawat. Ketika hendak take-off, seorang pramugari mengingatkannya untuk mengenakan sabuk pengaman. Muh. Ali menjadi dengan lantang dan sombongnya menjawab, “Superman tidak perlu sabuk pengaman.” Dengan cepat sang pramugari menjawab, “Superman juga tak perlu naik pesawat terbang.” Lalu Muhammad. Ali segera memasang sabuk pengaman.
Menara Babel berakhir dengan kekacauan pada saat muncul kesombongan. Nebukadnezar direndahkan begitu rupa akibat sombong dan bermegah diri. Dan masih banyak lagi kisah-kisah kehancuran karena kesombongan.
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Ada  paradigma yang perlu kita rubah. Kita perlu menyadari bahwa kita terdiri dari roh dan fisik, dimana fisik bersifat sementara sedangkan roh yang akan kekal. Kita lahir dan mati tidak membawa apa-apa. Pandangan ini membawa kita untuk mampu melihat kesetaraan universal, sehingga kita tidak lagi dikelabui oleh penampilan, label dan segala bentuk luar lainnya, sehingga
yang tampak adalah hal-hal dari dalam yang bersifat roh. Selalu terus mendekatkan diri dengan Tuhan, senantiasa berdoa adalah cara terbaik. Sering kita dekat dengan Tuhan pada saat kita susah saja namun gilirannya saat kita senang, kita melupakan Tuhan. Berbaliklah kepada Tuhan.

Sombong dan bangga batasannya tipis, apalagi di bisnis MLM ini, dimana kita pada saat berhasil harus menjadi bukti yang menginspirasi orang lain untuk berjuang bisa berhasil juga. Semua kembali tergantung kepada niatnya. Memang sering sebaik apapun yang kita lakukan, maka orang yang sirikpun akan mencap kita sombong, dan kita menjadi serba salah dengan apapun yang kita lakukan. Pada prinsipnya jangan terintimidasi oleh hal ini, namun bercerminlah dan buka hati dengan tanpa kesombongan, tanyakan pada diri anda paling dalam, apakah ini tujuannya adalah untuk menginspirasi orang lain atau untuk menunjukkan keberhasilan anda? Setelah anda mendengarkan jawabnya tanyakan sekali lagi, dan rasakan nurani anda yang terdalam, jika ada rasa tidak enak, itu jawaban niat anda salah, niat anda bersombong.

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.

Penulis
Ir. Djoko H. Komara
General Manager K-Link Indonesia

Belajar dari Masalah dan Tekanan untuk Menjadi Pijakan Kearah Kesuksesan

Di dalam menjalani kehidupan ini, kita sering mengarungi dinamika kehidupan seperti ombak dilautan. Kita sering diijinkan Tuhan melalui berbagai-bagai kejadian. Sesungguhnya kejadian-kejadian itu pada akhirnya membuat kita bahagia atau duka, semuanya ternyata bukan tergantung oleh kejadian itu, namun sepenuhnya tergantung dari bagaimana kita mencerna kejadian itu, sebagai sesuatu yang positif atau negatif yang akhirnya mempengaruhi hasil akhir yaitu bahagia atau duka.

Terlepas apakah Anda sedang berjuang atau tidak, tetap saja dinamika kehidupan itu akan kita alami. Kalau begitu kenapa kita tidak memilih untuk berjuang dan menghasilkan sesuatu yang positif?

Untuk dapat mengatasi itu semua bermula dari pikiran dan mental kita. Saya ingat sebuah cerita motivasi dari email seorang teman tentang cerita seekor keledai tua.

Suatu hari disebuah desa terpencil, seekor keledai tua terjatuh ke dalam sumur tua yang sudah lama kering. Petani tua pemilik keledai itu mendapatinya sedang menangis meraung-raung di dalam sumur tua yang juga milik petani itu. Mengetahui hal itu sang petani bingung mencari cara bagaimana menarik hewan itu keluar.

Akhirnya petani tua itu berpikir, bahwa toh keledai itu sudah tua dan sumur tua itupun sebenarnya berbahaya karena bisa saja anak kecil di desa itu yang akan terjerumus jatuh kedalam sumur. Maka petani tua itu memutuskan untuk menimbun saja sumur itu bersama dengan keledai tadi, untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus.

Segera petani tua itu meminta bantuan tetangga-tetangganya untuk mengambil sekop dan menimbun sumur tua itu. Maka mulailah sekop demi sekop tanah di tuangkan ke dalam sumur tua. Pada mulanya keledai itu menyadari apa yang terjadi meraung keras dengan penuh kengerian. Namun segera semua orang disitu takjub karena tiba-tiba suara raungan keledai itu terhenti dan didapati bahwa ternyata setiap bersekop-sekop tanah yang menimpa punggungnya, keledai itu melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar setiap tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, dan keledai itu menaiki tanah tersebut.
Sementara terus para tetangga menuangkan tanah dan kotoran ke hewan itu, sang keledai terus saja mengoncangkan tubuhnya dan melangkah naik. Segera saja orang-orang disitu terpesona ketika akhirnya si keledai dapat meloncat naik ke tepi sumur dan menyelamatkan diri.

Jangan takut untuk mengalami tekanan dari keadaan atau orang lain, karena toh kita tidak bisa lepas dari tekanan itu. Misalnya Anda takut ditolak/dimarahi/ditekan baik oleh prospek, downline, upline atau pelanggan Anda saat menjalankan bisnis ini. Jika Anda merasa lelah, tidak mampu dan memutuskan menyerah. Anda mencari pekerjaan/usaha lain yang Anda pikir tidak akan mengalami tekanan seperti dibisnis ini, maka segera Anda akan mendapati kenyataan bahwa dipekerjaan/usaha manapun ternyata sama saja. Sebagai direktur Anda akan ditekan oleh direksi/pemilik saham, sebagai pemilik tunggal perusahaan Andapun tidak lepas dari ditekan dari klien/pelanggan Anda, sebagai pengangguranpun Anda akan ditekan oleh kebutuhan-kebutuhan pokok Anda, yang akhirnya tekanan lebih besar lagi dari penagih-penagih hutang-hutang Anda. Dalam hidup ini kita tidak bisa lari dari hal itu, maka hadapi saja. Jangan berdoa kepada Tuhan untuk menghilangkan tekanan-tekanan itu tetapi berdoalah kepada Tuhan agar punggung kita lebih kuat untuk memikulnya.

Dalam menjalani kehidupan yang penuh dinamika dan sering mengalami tekanan, masalah seperti tanah dan kotoran yang menimpa keledai itu. Kalau kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari setiap tekanan dan masalah maka kita seperti hewan tadi yang mengoncangkan badannya, dengan mengoncangkan pikiran-pikiran negatif atas setiap kejadian yang menimpa kita, dan melangkah untuk belajar lebih pandai lagi sebagai pijakan dalam perjuangan berikutnya yang akhirnya mengantar kita pada kesuksesan.

Setiap tekanan dan masalah sesungguhnya merupakan pijakan untuk menuju kesuksesan jika kita tidak menyerah dan membiarkannya menenggelamkan kita.

Penulis
Ir. Djoko H. Komara
General Manager K-Link Indonesia

Hubungan Antar Manusia

Tidak ada manusia yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Masing-masing membutuhkan hal-hal yang ditawarkan orang lain, begitu juga anda memiliki hal-hal yang dibutuhkan orang lain.
Baik disadari maupun tidak, sebenarnya setiap dari kita mempunyai kebutuhan untuk membantu orang lain. Kebutuhan ini jika dipenuhi ada kedamaian, kelegaan, perasaan yang sulit untuk dilukiskan, namun nyata yang tidak dapat dibeli dengan uang seberapa pun.
Namun seringnya yang kita temui di dalam kehidupan kita, dalam membantu orang lain ternyata tidaklah semudah yang diniatkan. Jika caranya salah yang terjadi bukannya memecahkan masalah malahan menjadi bumerang yang menghantam balik kita sendiri. Hal ini dapat dilukiskan dengan cerita yang pernah saya baca dimilis-milis motivasi, kisahnya kira-kira seperti ini:

Ada seorang pertapa muda sedang meditasi ditepi sungai. Tidak lama setelah memejamkan mata, pertapa muda ini mendengar gerakan suara air yang tidak wajar dekat tempat dia bermeditasi. Setelah diperiksa arah bunyi itu ternyata didapatinya seekor kepiting sedang berusaha keras untuk naik ketepi sungai agar tidak terhayut oleh arus sungai yang saat itu sedang deras.

Melihat hal itu terbitlah rasa kasian dan segera mengulurkan tangannya kearah kepiting untuk membantunya naik ketepi. Sang kepiting mengulurkan capitnya dan segera mencapit jari tangan sang pertapa muda sehingga walaupun pertapa itu berhasil menolong kepiting tapi jari tangannya terluka oleh capitannya. Namun hati sang pertapa muda merasa puas karena telah membantu menyelamatkan sang kepiting.

Kemudian sang pertapa melanjutkan meditasinya. Belum lama waktu berselang, terdengar lagi suara percik air yang janggal lagi dan dilihatnyalah seekor kepiting entah kepiting yang sama atau kepiting yang berbeda, yang jelas dilihatnya seekor kepiting kesulitan berjuang melawan arus dan sedang berusaha ketepi sungai dengan susah payah. Segera pertapa tadi mengulurkan tangannya dan membantu lagi, sehingga kali ini tangannya yang sudah terluka semakin bengkak karena capitan kepiting di jarinya.

Seorang tua yang kebetulan berada disekitar dan melihat kejadian itu menghampiri pertapa muda itu dan bertanya dan menegur pertapa muda itu, “Anak muda, perbuatanmu menolong kepiting itu merupakan cerminan hatimu yang baik. Tetapi mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting itu melukai jari tanganmu, hingga bengkak dan robek begitu?”

“Paman memang seekor kepiting menggunakan capitnya untuk berpegangan. Saya sedang melatih dan mengembangkan rasa belas kasih, maka saya tidak mempermasalahkan jari tangan terluka asalkan menolong makhluk lain walaupun itu hanya seekor kepiting”, jawab pertapa muda itu dengan hati yang tentram karena telah melatih belas kasih yang baik.

Mendengar jawab sang pemuda, orang tua itu kemudian memunggut sebatang ranting, dan mengulurkannya kepada kepiting yang juga kebetulan sedang terseret arus. Segera kepiting itu menangkap ranting tersebut dengan capitnya. “Lihatlah anak muda. Melatih sifat belas kasih itu baik, tetapi harus disertai dengan cara yang bijaksana. Menolong makhluk lain itu baik tetapi bukan berarti dengan cara mengorbankan diri. Rantingpun bisa kita manfaatkan, malah dengan cara ini kamu dapat menolong kepiting jauh lebih banyak dari pada yang dapat kamu lakukan dengan cara kamu tadi.”

Terbukalah mata sang pertapa muda, dan berkata, “Terima kasih paman, hari ini saya dapat pemahaman yang sangat berguna, bahwa kita mengembangkan rasa belas kasih dengan bijaksana.

Berbuat baik dengan cara yang bijaksana, bukan saja memberikan dampak positif kepada yang dibantu, namun juga sekaligus membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi yang membantu.

Dalam buku “How to Have Confidence and Power in Dealing with People” karangan Les Giblin menuliskan bahwa pada dasar semua manusia saling membutuhkan untuk saling mengisi. Hanya ada tiga metode dasar tentang berhubungan dengan orang lain, yaitu:
  1. Anda bisa mengambil apa yang anda perlukan dari orang lain dengan paksaan, ancaman, intimidasi atau dengan mengalahkan kecerdikannya. Walaupun para penjahat tentu saja termasuk dalam kategori ini, banyak orang terhormat yang menggunakan metode ini dengan cara yang lebih halus.
  2. Anda bisa menjadi pengemis dalam berhubungan antar-manusia dan mengemis kepada orang lain supaya memberikan apa yang anda inginkan. Jenis kepribadian yang tunduk kepada orang lain ini menangani urusan dengan orang lain, “Saya tidak akan memaksa dengan cara apapun atau menyulitkan anda, dan sebagai timbal baliknya anda bersikap baik kepada saya.”
  3. Anda bisa menyelesaikan urusan atas landasan pertukaran yang adil, atau memberi dan menerima. Anda menetapkan sebagai urusan anda untuk memberikan kepada orang lain apa yang mereka butuhkan dan mereka inginkan, dan biasanya sebagai timbal baliknya mereka memberikan kepada anda hal-hal yang anda perlukan.

Dari ketiga cara berhubungan dengan manusia diatas, cara yang akan bertahan terus dalam jangka panjang adalah cara yang ketiga, yaitu yang dikenal dengan istilah, ‘give and take’ Bahkan hubungan antara ayah dan anakpun sebenarnya menganut cara ini juga.

Kita beruntung melalui bisnis ini, kita dapat membantu orang lain dengan penuh kebijaksanaan dari sistem bisnis ini. Karena di bisnis ini kita membantu orang lain berhasil kita juga berhasil. Dan kebutuhan akan membantu orang lain tersalurkan dengan baik, memberikan kita rasa kedamaian yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Mari kita bantu lebih banyak orang lain melalui bisnis ini, apa lagi dalam kondisi ekonomi resesi global, yang sebagai dampaknya PHK semakin marak. Percayalah banyak orang diluar sana yang sebenarnya memerlukan bisnis ini untuk menyelesaikan problem-problem mereka.



Penulis
Ir. Djoko H. Komara
General Manager K-Link Indonesia